S2 tanpa Beasiswa : Bulan Pertama di Munich

‘Sup!

Sebelumnya saya sempat menulis tentang persiapan pribadi dan apa saja yang harus dipersiapkan ketika hendak mengambil kuliah di luar negeri tanpa beasiswa. Ga kerasa sudah > 1 bulan saya berada di Jerman dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada disini. Karena memang kaitannya erat antara persiapan keberangkatan dan penyesuaian diri, saya memutuskan untuk menuliskan pengalaman pribadi dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru. Semoga membantu!

Sebelum menjejakkan kaki di negeri orang, alangkah baiknya mempunyai point of contact yang bersedia membantu / memberikan informasi terkait hal hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam bersikap / berinteraksi dengan lingkungan baru. Dalam hal ini saya kebetulan mempunyai teman dan mentor yang siap membantu memberikan tutorial tentang kehidupan awal di Jerman. Kalau ga ada mereka mungkin saya udah gelagapan ga tau mau ngapain kemana dan gimana :))

Pencarian akomodasi merupakan hal yang krusial, jangan sampai sudah mendarat tapi masih belum tahu mau tidur dimana. Ati ati kena deportasi sih kalo gitu hahahah. Pencarian akomodasi di Munich sangaaaaaaaaatttt susaaaahhh sekaliii sumpah ga boong. Sejak dari Indonesia saya sudah berusaha mencari informasi akomodasi ( post di wg-gesucht, cari di immoscout, craiglist, googling, facebook, etc ) tapi memang sebagian besar landlord hanya mau menyewakan setelah bertatap muka. Kebetulan ada kenalan yang berbaik hati mau menampung selama beberapa hari awal di Munich sehingga saya masih punya beberapa hari untuk benar benar mencari dan berkunjung ke calon tempat tinggal. Setelah beberapa kali melihat lokasi, akhirnya saya mendapatkan tempat di Laim, cukup jauh dari kampus sih ( 50 menit – 1 jam ) tapi transportasi mudah dan InsyaAllah cocok.

Tempat beribadah terutama bagi umat muslim ( karena harus sholat 5x sehari ) mungkin agak susah dicari. Hampir semua tempat umum tidak punya semacam mushola / ruang ibadah umum. Tapi masjid tidak terlalu susah untuk dijumpai. Rata rata dalam jarak 15-30 menit pasti ada masjid yang bisa disinggahi.

Pembuatan Rekening Bank Jerman itu gampang gampang susah sih. Gampangnya karena banyak pilihan ( Deutsche Bank, Commerzbank, N26, Sparkasse, dll ). Susahnya karena dokumennya semua berbahasa jerman dan kadang kadang agak ribet ( harus ke branch yang deket tempat tinggal / pake verifikasi via post / harus book janji online dulu dll ). Buat yang ga mau ribet sih enaknya langsung datang ke cabang bank terdekat yang diinginkan aja buat tanya tanya. Biasanya ada paket / tawaran berbeda untuk target market yang berbeda ( youth / student / adult ) jadi mending tanya tanya aja dulu sebelum daftar. Saya pribadi pake commerzbank ( karena deket sama tempat tinggal ) dan N26 ( karena online bank dan ga ada biaya bulanan ).

Pengurusan Residence Permit itu dilakukan terakhir setelah semuanya selesai. Udah punya tempat tinggal? Udah punya rekening bank Jerman? Udah nyaman dengan kondisi sekitar? Saatnya mengurus residence permit!
Apa itu residence permit? Residence permit adalah ijin yang dibutuhkan untuk tinggal dalam jangka waktu lama di sebuah negara (Eropa). Kalau semua dokumen yang dibutuhkan sudah komplit ngurusnya cepet kok. Berikut langkah langkah (yang saya lakukan) untuk mengurus residence permit :

  1. Bikin online appointment ( biar ntar nunggu gilirannya ga kelamaan )
  2. Nyiapin dokumen yang dibutuhkan ( passpor, ijin tinggal, berkas studi, pasfoto, dll )
  3. Dateng pas jam janjian, nunggu dipanggil

Setelah dipanggil bakalan cepet kok, cuma dijelasin dan ditanya tanya dikit ( misal : mau cap di paspor (90 eur) atau pake kartu (110 eur) – kartu lebih mahal sih tapi praktis karena jadi gausah bawa paspor kemana mana ). Abis itu baru ada security check. Biasa lah disuruh ngisi form tentang afiliasi dan minat ke organisasi mana aja ( ada listnya semua ) jadi mungkin buat tau mana yang simpati ke Al-Qaeda/KKK dan sejenisnya.

Abis itu beres tinggal nunggu kabar selanjutnya untuk pengambilan residence permit.

Tips trik lain

  • Luangkan waktu buat cari teman baru. Ngobrol ngobrol dengan orang lama atau orang baru akan memberikan banyak informasi yang mungkin akan butuh waktu lama kalo cari sendiri.
  • Jaga kondisi fisik dan mental jangan sampai sakit karena kalo awal awal sakit bakal repot banget kalo belum siap semuanya.
  • Kalau memang niat kuliah sambil kerja, pergunakan waktu seefisien mungkin karena waktu belajar akan sangat tersita dengan kesibukan kerja dan pembiasaan lingkungan baru, terlebih ada beberapa (bahkan lumayan banyak) kuliah yang menerapkan nilai 100% di ujian akhir sehingga membutuhkan perhatian ekstra.

 

Semoga membantu!

S2 tanpa Beasiswa : Bulan Pertama di Munich

Pengiriman Dokumen menggunakan DHL : Online vs Drop Off

Hi,

Beberapa hari yang lalu saya melakukan beberapa kali pengiriman ke Jerman menggunakan jasa DHL. Berhubung ada beberapa dokumen dengan beberapa alamat yang berbeda, iseng iseng saya ingin mencoba 2 cara pengiriman yang berbeda juga yaitu Order Online dan Drop Off.

Kenapa coba 2 cara? Karena penasaran aja sih. Soalnya dari web DHL susah banget dapetin informasi yang jelas soal cara pengiriman yang enak dan cepat. Untuk mendapatkan quote harga aja susahnya lumayan sampe saya harus nyimpen linknya.

Btw hasil quote harganya untuk pengiriman Indonesia Jerman ( Nov 2017 ) seperti ini

 

cb732b9580

Berhubung ship online ( dengan pembayaran menggunakan credit card ) lebih murah, maka saya mencoba menggunakan cara tsb pertama kali.

Hasilnya?

Dokumen + Asuransi (+-10%) + Biaya Pickup ~720 ribu rupiah.

Ketika kurir DHL datang, saya ngobrol bentar terkait perbedaan metode pengiriman. Surprisingly, kurir DHL lebih menyarankan Drop Off karena lebih cepat dan lebih murah. Metode Ship Online akan terkena pickup charge dan kurir masih harus mengambil dokumen lain sehingga dokumen kita baru diantarkan pada malam harinya. Menurut beliau metode Drop Off akan lebih murah karena tidak ada pickup charge  dan dokumen kita bisa langsung diproses tanpa menunggu dokumen lain.

 


Pada kesempatan selanjutnya, saya mencoba mengirimkan dokumen melalui DHL Service Point Kemang. Dokumen tsb beratnya sama dengan alamat yang masih sama sama di Jerman tapi tujuannya sedikit berbeda.

Hasilnya?

Dokumen tanpa Asuransi ~580 ribu rupiah (kalau dengan asuransi mungkin jadi ~650rb)

Ternyata rekomendasi kurir DHL memang benar adanya!!! Harga lebih murah dan pengirimannya memang lebih cepat.

Sebagai perbandingan saya sama sama mengirimkan barang pada rentang pukul 10-11 WIB. Dokumen pertama ( via ship online ) diproses pada malam hari sedangkan dokumen kedua ( via DHL Service Point ) diproses pada siang/sore hari.

Dengan pengalaman ini, sepertinya saya akan menggunakan DHL Service Point  apabila ingin mengirimkan dokumen lagi ke depannya.

 

Semoga membantu~

Pengiriman Dokumen menggunakan DHL : Online vs Drop Off

One that knows your suffering

 Jogjakarta, 29th January 2016

We’re in a car. About to go get a dinner. 3 guys, talking about bits and pieces of life. Then comes the inevitable : stories about romance, about love life. In the end someone said “The best partner is someone that’s with us in our times of struggle”

Jogjakarta, 30th January 2016

I’m in a porch. Scrolling through Instagram. Stumble upon a quote : “Who are you when you have nothing?”

I stopped. It got me thinking.

.

“Who am I when I was nothing?” and “Who would I become when I have everything?”

I can’t answer that question. The answer should come from someone else. Someone that knows me when I’m still nothing, watches me when I’m struggling, and still with me when I’ve reached the goal.

I always believe that life has some stages, and each person has different stages than the others. Usually, every stage has its own suffering moments. And the pressure that comes from the sufferings shape us into who we are. Having someone besides you when that moment arrives will change the way you handle those pressures. Perhaps that’s why we can’t hate some people, no matter what happened. Maybe because they’re there at our weakest moments. Because they changed the way we react to pressure. Because they helped us through our moment of suffering. Because they’re a part of us. 

.

And maybe that’s why the best partner is the one besides us in our times of struggle. 

Because they complete us.

One that knows your suffering

What if…?

They say that major life events will change you. Well, recent events got me thinking,

What if one day, I become a victim of terrorist attack? Or my family got caught in the event that transpired that day?

One thing for sure, I can’t imagine the grief that I’ll be going through or the fear that will haunt me. But I’m not sure what will happen after that. 

I might be consumed with fear and grief, so much that my life will be ruined from that day on. Or perhaps the event will motivate me to do better, to prepare for anything that might happen in the future.

I might be the same person as I was before. There is a possibility that any kind of major events won’t change the way I do things, that I will be the same no matter what happens. That’s not good though. That means I’m already content with my life. That I don’t really need anything, want anything, or afraid of anything. That my friend, is a bad combination of arrogance, indifference and laziness. And that’s bad. Really bad.

Why? Because I haven’t achieve anything major in life. Major enough for people to remember me long after I’m gone. Major enough to still give benefits for people even after I’m long gone. I want to make sure of that before my final moment comes. I want my life to have a meaning, that my world is a bit better because of me. That’s why I need to keep improving. IF a major life events can’t change me, then that means I’m stuck in current mental state. Inanimate with no progression to a better state.

And because of that, I’m afraid to die. I’m not ready for that. Not now. 

There’s still much to do.

What if…?